Breaking News

BERITA OLAHRAGA MENARIK DAN TERHANGAT

Tuesday, August 28, 2018

Facebook buka suara dalam peristiwa kekejaman terhadap Rohingya di Myanmar

BERITA HARI INI - membahas tentang Facebook buka suara dalam peristiwa kekejaman terhadap Rohingya di Myanmar simak selengkapnya.



JAKARTA - Facebook adalah sebuah situs jejaring sosial yang populer dunia. Situs ini diciptakan oleh mahasiswa di Universitas Harvard, Mark Zuckerberg bersama temannya  Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Facebook mulai diluncurkan pada Februari 2004. Awalnya situs ini hanya digunakan untuk mahasiswa Harvard saja. Kemudian diperluas ke perguruan tinggi lain di Boston, Ivy League, dan Universitas Stanford. Perlahan, situs tersebut mulai bisa digunakan oleh masyarakat luas di seluruh dunia. Pada September 2012, jumlah pengguna Facebook sudah mencapai lebih dari satu miliar.

Media sosial terbesar di dunia ini banyak yang mempersalah gunakannya, seperti yang terjadi di Myanmar yang menyebabkan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya

BACA JUGA : Sepeda Jokowi Untuk Joni Telah Tiba di Kupang, Rumahnya Mulai Di Renovasi

Facebook kemarin akhirnya melarang 20 organisasi dan individu di Myanmar, termasuk panglima militer, menggunakan layanan mereka. Facebook juga mengakui mereka terallu lamban mencegah menyebarkan ujaran  kebencian di Myanmar yang menyebabkan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya.

Dalam pernyataan itu Facebook mengatakan akan memberlakukan larangan itu setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan bukti para individu dan organisasi di Myanmar melakukan pelanggaran hak asasi di negara itu.

"Kami ingin mencegah mereka menggunakan layanan kami untuk memperburuk ketegangan etnis dan agama," kata Facebook.

Facebook mengatakan larangan itu juga kami berlakukan bagi panglima militer Myanmar Jendral Min Aung Hlaing dan jaringan televisi militer.

700 ribu muslim Rohingya mengungsi akibat kekerasan militer sejak Agustus tahun lalu. Penyelidik PBB Maret lalu mengatakan media sosial Facebooklah yang di pakai untuk memancing kekerasan dan menyebarkan kebencian terhadap etnis minoritas muslim Rohinya. Facebook, kata penyelidik PBB itu, menjadi 'alat yang sangat beringas'.

Tim misi pencari fakta PBB kemarin mengluarkan laporan yang menyerukan para pemimpin militer Myanmar diselidiki atas tuduhan pembunuhan massal atau genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan perang. Laporan itu memuat serangkaian laporan pembunuhan, penyiksaan, pemerkossan terhadap muslim Rohingya.

Militer Myanmar kerap menyangkal semua tuduhan itu semua.




Hasil dari investigasi kantor berita Reuters awal bulan ini menyatakan Facebook gagal dalam hal menangani ujaran kebencian terhadap warga Rohingya.

Dalam pernyataan tersebut Facebook mengatakan mereka sudah membuat kemajuan di Myanmar. Rakyat negeri itu selama ini menjadikan Facebook sebagai sumber informasi dan komunikasi .


"Tindak kekerasan etnis di Myanmar ini sungguh mengerikan,"kata Facebook. "Kami melakukan penindakan yang lamban, tapi kini sudah ada kemajuan dengan teknologi yang lebih baik untuk mengidentifikasi ujaran kebencian, memperbaiki perangkat laporan, dan lebih banyak orang bisa mengevaluasi konten."

Adanya larangan itu Facebook sudah menghapus 46 halaman dan 12 akun yang terlibat dalam perilaku menggiring kegiatan massal. Halaman yang mengaku independen itu di ketahui kerap mengirimkan pesan kepada militer Myanmar.


Facebook memberikan contoh konten yang sudah mereka hapus, termasuk unggahan yang menyebut warga muslim membakar rumah mereka sendiri dan menyalahkan militer sebagai pelaku.

No comments:

Post a Comment